Saturday, October 11, 2008

Aku ikhlas, iyah…!

By : Didi suardi

Terbesit di memori, saat aku melihat seorang yang sangat berarti dalam hidupku. kini sangat megejutkan hatiku. dulunya yang menjadi aspirasiku untuk pergi ke negeri gersang dan tandus ini, saat aku becita-cita, pada suatu hari nanti aku pulang ke kampung halaman ia menyambut denagn senyuman yang membawa kerinduan, saat rasa kangen itu sudah menjadi bagian dari kesedihan bahkan menjadi aktifitas kesehaarian. Tapi kini semuanya bukan lagi sebuah kebanggaan. Seolah hatiku tercabik-cabik okeh sengatan pisau tajam.

Aku tidak mengati dan aku hampir tidak percaya kenapa ia sampei segitunya melukai perasaan ini, hari-hari yang sudah lama menjadi teman dalam bermain, pergi ke persawahan sambil menenteng seekor ayam yang sudah di bersihkan, di sebuah persaungan yang terbuat dari bilik-bilik tua dan sebagian biliknya sudah hilang di tebas angin kencang, hari itu menjadi dimana hari yang takan terlupakan, bahkan memanggang ayam menjadi kebiasaan saat liburan kami tiba.

Tapi kenapa, persahabatan yang sudah kami jalani bertahun-tahun ini, kini lenyap hanya dengan satu kesan yang sangat tidak mengenakan, satu kesan yang mampu mencabik-cabik perasaan, ternyata banar kata orang sakit hati itu lebih sakit dari pada sakit gigi.

Yah… mungkin ada betulnya juga sebaiknya aku lupakan saja, walau itu terasa sakit, tapi bagaimanapun masa kecil dulu tak mungkin terulang kembali, biarlah semuanya berjalan apa adanya, kita sebagei manusia hanya bisa berusaha dan berdoa selebihnya allah yang maha berkehendak.

Tapi aku juga manusia biasa yang disuatu saat sangat memerlukan kasih sayang dan perhatian, rasanya sekarnag tidak ada lagi teman yang bisa menjadi teman dalam hatiku ketika kami sangat merinduka.

Dia memang pantas untuk dimiliki, banyak sekali yang memerhatikannya, menyayanginya, Dia memang pantas untuk disayang. bahkan banyak sekali kamu pria yang menagguminya.

Setiap aku berkunjung ke situsnya bayak sekali komen yang berdatangan, baik itu dalam bentuk pujian, rayuan bahkan sampei dalam bentuk puisi belayan. Aku tak tahu kenapa saat membaca tulisan itu hati ini merasa terpukul padahal dia bukan siapa-siapa lagi, tapi kenapa... kenapa…

5 tahun sudah waktu yang cukup lama, saat itu pula kami tidak pernah saling menampakan wajah karna mungkin waktu libur kami yang sedikit bergeser. saat saya pulang dia sudah tidak ada lagi di kampung halaman. Samei akhitnya aku berangkat ke negri ini(mesir) tanpa melihat wajah itu, aku merasa rindu sekali.

Aku sadar, aku tak mungkin bisa bersamanya seperti dulu. Disamping itu juga waktu yang membuat kami harus seperti ini serta tempat yang menjadi salah satu kendala.

Biar biarlah semuanya berjalan apa adaya…

Gami’, 07 oktober 2008. 12.05

denagn berusaha kita bisa

by : Didi suardi

saya sendiri merasa ada banyak sekali kesulitan dalam menulis atau tulisan saya yang sedikit bermasalah, entah itu bingung membuat judul, tidak ada gagasan, ide tidak muncul atau bahasa yang tersendat-sendat alias tidak mengalir.

Seperi yang saya alami sekarang ini, terasa isi otak saya seolah membeku secara tiba-tiaba saat mengetikan jari-jari di atas keyboad, alaur cerita tidak mengalir, banyak sekali kejanggalan dalam menyusun kalimat, atau masalah- masalah yang lainya.

Lebih baik saya tinggalkan dan mencoba berpindah ke tema lain , dengan harapan ini bisa memancing daya ingat saya atau mengundang fail-fail yang tersimpan menjadi lebih dekat. Ini bagi saya mungkin akan sangat membantu.

Pagi saya bisa membuat tiga lebar sekaligus dalam satu cerita dengan bahasa yang menurut saya cukup mengalir, tapi di sore harinya atau mencobanya lagi di pagi hari berikutnya tetep saja yang hampir membaut saya putusa asa, tapi saya punya anggapan denagn berusaha kita bisa.

Yah… mungkin kita sebagai manausia biasa, banayak sekali terdapat kekurangan disana sini, termasuk dalam menulis. apa lagi saya sebagei pemula yang masih perlu belajar banayak dari orang lain atau pun dari pengalaman, tapi saya yakin bagi orang yang mau berusaha dengan gigih dan rajin, allah akan membukakan permasalahan itu menjadi sebuah jalan keluar yang mungkin kadang kita kidak menyadarinya atau menganti dengan kemudahan yang lain. Yang terpenting bagi kita semunya saat ini haya berusaha dan berdoa.

Dalam berkarya memang banyak sekali tantangan seta rintangan yang tak henti-heti, hanya orang yang bijaklah yang bisa melewati itu semua, bagi mereka yang menyerah di tengah jalan hasil yang mereka dapat pun tidak akan pernah maksimal, begitupun saat mereka bepindah kepropesi yang lain mereka pasti akan mendapatakan beberapa rintangan didalamya, dan itu memang wajar bagi setaip mahluk di dunia ini termasuk kita sebagai mahluk ciptaanya.

Mari kita mengajak untuk saling mengingatkan disaat teman kita dalam kesulitan dan selalu memberi motivasi agar selalu tergar saat menghadapi permasalahan.

Alhamdulillah saya rasakan tulisan saya sekarang mulai sedikit mengalir walau masih ada beberapa kalimat yang perlu disesuaikan lagi, tapi saya selalu optimis bahwa dengan selalu berusaha besungguh sungguh alalh akan membukakan pintu-pintu kemudahan. Amiin

Gami, 05 oktober 2008. 23.57

Memori 8 tahun yang lalu

By : Didi suardi

Sebuah pengalaman yang sangat menarik bagi penulis, saat-saat yang sangat menyedihkan dan menegangkan bagi kami, tapi dengan itu semua kami bisa sadar ternyata pengorbabanan serta jerih payah saya dan teman-teman membuat kami sadar bahwa hidup itu buakn hanya sekedar santai atau bermalas-malasan, apa lagi kita memlihat bayak sekali dari mulai anak kecil sampai dengan orang tua, bahkan kakek dan nenek yang mengais rezeki di pingir jalanan, ada yang propesi sebagai penjual asongan, pengamen dsb. dengan berpakaian sangan minim dan sederhana, dan juga sebagian dari mereka banyak yang tidak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan Mereka tidur di kolong jembatan beralasan koran, sungguh sangat menyedihkan. Belum lagi yang kehilangan kedua orang tunya membuat mereka harus kerja keras.

Kali ini yang penulis alami memang tidak ada apa-apa dibandingkan dengan mereka, waktu dulu ketika saya masih duduk di bangku smp, setiap kali kami bernagkat kesekolah harus pagi-pagi sekali, karena kami hawatir gerbangnya sudah ditutup. waktu yang ditempuhnya pun memakan waktu cukup lama.

Setiap kami berangkat ke sekolah, jarak antara 200-300 meter memejadi jatah kami setiap hari yang memerlukan waktu sekitar 25 menit dengan bejalan kaki.

Waktu itu alat transportasi masih jarang, jadi paling tidak kami harus meunggu mobil akutan sedikit memakan waktu, dan itu kami melakukanya hampir selama 2 tahun.

Alasan kami kenapa harus berjalan kaki. untuk mendapatkan mobil angkitan, Saat dulu sebelum ada keributan antar desa. Desa kami dengan desa yang lainya masih terlihat ramah, rukun dan juga saling menghargai, tapi saat kerusuhan itu terjadi membuat kami harus terkena imbasnya.

Kerusuhan yang terjadi waktu itu, membauat kerukunan kami dengan tetangga desa sebelah menjadi tidak harmonis, kendaraan yang selau beroprasi masuk ke kampung kami jadi terhenti, mereka beralasan takut di keroyok, dibacok,dsb. Begitupun sebaliknya pemuda desa kami terutama yang terlibat dalam kerusuhan itu memjadi incaran di seluruh pelosok desa.

Saya meyaksikan sendiri pertarungan itu, mereka dari arah yang saling behadap-hadapan, satu persatu mebawa benda tajam, seperti pisau, golok, palu, belati dsb berlari kencang. Dari pemuda kami pun tak mau kalah mereka secara kompak menyerbu. Pada saat itu pula terjadi pertarungan yang sangat dahsat. Saya dan teman-teman saya haya bisa menyaksikan di bukit ketinggian, sambil merayap-rayap seperti tentara. Saat kami memasuki perbatasan, kami sudah dikjemput disana. Dan alahamdulillah kami semua selamat.

Kita bisa bayangkan posisi kami pertama adalah berada diwilayah musuh, saat kami tahu desa itu akan menyerang desa kami, kami segera meberetikan mobil itu. Kalau ini dibiarkan kendaraan itu akan masuk kawasan meraka, ini akan sangat membahayakan bagi kami. Akhirnya dengan sangat terpaksa, kami harus segera memberhentikan kendaraan yang kami tumpangi itu walau perjalanan masih sangat jauh, tapi harus bagaimana lagi, kami saat itu tidak ada pilihan, malah yang ada rasa kecemasan dan ketakutan, jangan-janagn kami mau diapakan.

Kami mulai memasuki semak-semak belukar, menerobos pemakaman, perkampungan, pesawahan, dan perbukitan. Jadi dari atas sana kami bisa menyaksikan bagaimana mereaka dengan garangnya menyerbu desa kami, pemuda desa kami pun tidak tinggal diam. Dipukulah kentongan yang mengisyaratkan mereka sudah datang dan siap untuk menyerbu. Satu, dua orang berlari dengan membawa golok.

Senin, 04 oktober 2008. 14.15

***

Persaan waktu itu yang ada haya ketakutan dan kehawatiran di kedua belah pihak, bagaimanapun mereka tetap sodara kita, tetangga kita, teman kita dan juga sodara kita dalam satu keyakinaan. Bagaimana bisa kita harus memeranginya, sedangkan disi lain walau terlihat kita menang dalam pertempuran, tetapi pada hakekatnya kita telah terbedaya oleh nafsu syaian.

Aku dan teman-teman berlalri keperkampungan yang terlihat sepi, aku terkesan heran saat melihat penduduk kampungku sibuk membawa peralatan rumahnya, termasuk ibuku sendiri sudah beriap-siap mengemasi barang-barang, mereka takut akan membakar rumah dan melukainya. Suasanya kampung diwaktu itu sangat ramai sekali, penuh dengan teriakan orang yang ketakutan dan tangisan anak-anak kecil.

Denagan paniknya seorang ibu membuat anaknya jauh lebih panik lagi. Ibuku sudah mebungkus pakaianku dan pakaian adik-adiku. Mereka semuanya sudah besisp-siap bersama dengan keluarga lainya untuk mengungsi ke desa lain.

Saat kami akan memasuki kampung lain kami harus melewati pesawahan dan dataran tinggi, kami melihat segumpalan api yang cukup besar persis di tempat kerusuhan tadi. kami semakin panik. Dengan perjalanan yang cukup panjang dan memelahkan kami pun sampai di sana, seta meraka kerabat kami yang tinggal disana sudah menyambut di depan perbatasan, sebelumnya kami kesana ibuku sudah mnyuruh adiku untuk emminta izin tinggal disana untuk sementara waktu, maka ketiaka kami sampai disana mereka sudah tangkap cepat bahwa kedatangn kami kesina untuk mengungsi.

Dua, tiga jam sudah berlalu. Aku mebayangkan bagaimana suasana pertempuaran itu. Aku takut ada darah tercecer diamana.

Tidak disangka waktu sudah sangat sore, tapi tampaknya kampung kami masih tidak ada tanda-tanda penyerbuan atau rumah-rumah yang dibakar. Kami penasaran bagaimana keadaan kampung kami sekarang ini.

Tiba-tiaba salah seorang pemuda datang menghampiri dan mengimpormasikan bahawa insya allah sekarang kita dalam keadaan aman. Dia juga meberitahuakan bahwa api yang besar tadi yang seperti rumah dibakar itu bukan rumah kampung kita tapi rumah kampung sebelah, para pemuda semuanya meyerang sampei kekampung mereka dan mebakar salah satu rumah tua yang terbuat dari bambu.

Senin, 05 oktober 2008. 12.15

***

Sejak dari kejadian itu kekerabatan kami dengan kampung sebelah menjadi renggang, setelah beberapa tahun, kurang lebih dua tahun lamanya. oleh sebab itu kendaraan tak lagi mau masuk ke kampung kami, dengan alasan mereka masih teroma takut diapa-apakan. Selama itu pula kami harus bejalan ke kampung lain untuk mendapatkan akutan kesekolah. Sampai akhirnya kami bisa bertahan samapi lulus sekolah. Dan sebagian yan lain ada yang berhenti sekolahnya dengan alasan pulang dan pergi yang sangat melelahkan.

Ketika ujinan akhir sekoalah akan dimulai, seperti tahun-tahun sebelumnya, bagi para pererta ujin diharuskan mengikuti pelajaran tambahn untuk memberi kemudahan dan membantu dalam menjawab ujian akhir sekolah. Bagi teman-teman yang rumahnya tak juah dari sekolah ini mungkin tidak bermasalah, tapi bagi kami yang jauh dan transportasi sanagat sulit membuat kami harus berpikir ulang. Apa lagi mungkin setelah pelajaran itu usai, kami berpikir apakah masih ada kendaraan atau tidak?.

Sebagian teman-teman ada yang memilih belajar di ruamah, dan sebagiannay ada yang mencoba-coba. Les sebagai tambahan pun dimulai. Ternyata pirasat kami benar, kendaraan ke kampung kami itu sama sekali tidak ada, hampir dua jam lebih kami menunggu, tapi hasinya nol. karna hari sudah mulai sore, Dengan terpaksa kami memutuskan untuk berjalan kaki. ada yang mengusulkan sebaiknya kita memotong jalan dengan melewati peasawahan, pemakaman, hutan kecil, menyebrang sungai, dan satu perkampungan.

Karena waktu yang sangat mepet dan tampaknya sebentar lagi akan menjelang malam ini sangat tidak mungkin kalau kami mengambil jalan seperti biasanya, dengan berat hati kami menerima usul salah satu temanku itu.

Perjalanan kami mulai bengan melewati sebuah perkampungan yang cukup ramai, pasar dan juga pertokoan. Masarakat memerhatikan kami dengan sedikit heran mungkin mereka tidak terbiasa menyaksikan sekelompok anak smp yang masih bepakaian seragam pada sore hari menjelang malam. Sesampai kami memasuki pesawahan disana kami melihat keindah alam semesta yang begitu luas, persahabatan, kekompakan dan kesetiaan, membuat perjalanan kami semakin menarik.

Perkampung dan pesawahan sudah kami lalui, tinggal melewati hutan kecil, pemakaman, dan satu perkampungan lagi. saat melewati hutan-hutan kecil tiba-tiba hujan lebat, dan akhirnya kami beisrirahat sejenak, tapi tampaknya hujan semakin deras, salah satu temaku menyarankan kalo kita menunggu sampai hujan berhenti kayanya kita bisa kemalaman sampei dirumah, itu pun harus melewati pemakaman dan satu perkampungan lagi. Ini sangat membahyakan bagi kita semuanya.

sang surya pelahan mulai memasuki sangkarnya, langit tampak semakin gelap dan hujan semakin deras. Tubuh yang sejak tadi pagi haya dimasuki makanan kecil, kini seluruh angota tubuh terasa lemas, sedangkan disana tak ada yang bisa kami makan. Disi lain kami harus meneruskan perjalanan kurang lebih satu jam-an lagi.

Selasa, 06 oktober208. 13.05

***

Saat melali pemakaman ada hal hal yang aneh disana, tampak dari kejauhan seorang kakek tua sedang mengali tanah, berapakaian aneh, dan berwajah serem. Pada mulanya kami tidak mau mendekatinya, tapi harus bagaiman lagi jalan haya ada jalan satu satunya, mau tidak mau kami harus melewatinya.

Pelahan kami berjalan di sampingnya sambil ucap
“Permisi kek!”
“Adek-adek mau kemana” betanaya si kaket tadi
Kami cukup terkejut mendengarnya.
“kami Mau pulang kek” salah sau teman kami menjawab
“Hati-hati”
“Iya kek, terima kasih”
kami merasa lega, ternyata kakek tadi adalah seorang pengali kuburan biasa. Huhk…hampir saja membuat kami terkejut

Suasana di pemakaman itu gelap sekali, seluruh dindinya tertutupi oleh pepohonan dan dedaunan yang sagat lebat sehingga cahaya matahari tidak masuk kedalam. Pelahan-lahan kami berjalan dan akhrinya kami sampai juga di pintu keluar, tapi tamapaknya hujan masih deras. ada yang menyarankan agar kami berhenti sejenak berarti dengan terpaksa kami harus segera melangkahkan kami karena matahari sudah mulai tenggelam, sedangkan kami harus melewati satu perkampungan lagi yang kurang lebih memakan waktu sekitar setengah jam-an.

Saat melewati perkampungan kami melihat sekelmpok anak-anak keci berpakaian kokoh, berkopeah, dan bersarung sambil menyandang payung, tampaknya mereka akan pergi mengaji.

tidak terasa ternayata kami sudah sampei di kampung halaman. sebuah perjalanan yang melelahkan dan bayak mengandung resiko itu dan walau seluruh aggota badan kami mengigil kedinginan dan perut terasa lapat pada akhirnya kami dapatl pulang dalam keadaan selamat Kami pun pulang kerumah masing-masing.

sesampai dirumah, bapak sedang meonton tv, ibu yang sedang menyetrika, dan adik-adiku yang sedang belajar di atas teras.

Tok… tokk… tok! Bapak, ibuuu…!
Bapak mengerti bahwa yang mengetuk pintu itu adalah anaknya, anak yang sedang ditunggu dari sejak siang dengan penuh kehawariran dan kecemasana. maka Bapak langsung membukakan pintu. saya merasa kepalaku tiba-tiba mendadak pusing, badan terasa lemas, otot keram dan telapak kami terasa membengkak karena terlalu lama terendam air dalam sepatu. Bapak mengambilkan handuk, sedangkan adek disuruh bapak untuk memanaskan air untuk saya kakaknya.

Pak, tas… tas…pak, buku… tas… hah..hah…(suara naspas)
Buku dido di tas
Bapak melirik tas dan lanngsung mengeluarkan buku yang ada di dalamnya, buku yang sudah bertamabah berat karena terendam oleh air, bapak pun langsung menyuruh ibu untuk menyetrika buku-bukuku.

Saya bersandar di tembok sambil melepas kecapean dan melemaskan otot-otot yang masih terasa linu. saya memandang buku-buku yang mungkin tak layak lagi disebut sebagai buku. Aku mencemaskan buku-buku yang dua hari lagi akan di kumpulkan sebagai sarat penamabahan nilai ujin akhir sekolah nanti dan catatan pelajaran penting lainya. Bagaimana aku akan mendapat tambahan nilai dan bisa belajar kalau buku catatannya saja tidak ada. Ibu mendengar seperti itu langsung menangis, air matanya terus becucuran dari sudut kelopak matanya, ibu yang keseharianya galak kini bisa nenangis melihat anaknya datang dengan baju basah dan kedinginan.

Bapak terus memandang wajahku yang terlihat pucat, sambil mengusap rambutku dan berkata “Dido… harus kuat…biarlah…! semua ini adalah ujin”
“Iya pak… “ jawabku sambil memanggukan kepala.
Ibu yang terlihat sedang sibuk memanaskan makanan, ternyata dalam hatinya ia menagis, air matnya terus tak henti-henti bercucuran.

Tiba-tiba seruan azanpun dikumandangklan, aku segera mengambil anduk yang sebelumya sudah disediakan di dekat kamar mandi, dan seember air panas yang sudah disiapkan adiku. Dengan begegas aku gegera mandi. Setelah madi aku melihat bayak sekali hidangan di meja makan, satu ayam yang masih utuh, sambal dan lalaban yang sudah direbus siap menyambut makan malam. Alhamdulillah

Gami’, 08 oktober 2008. 13.51

Memori tujuh tahun yang lalu

By : Didi suardi

Dimana mencurahan segala pikiran dan perasaan sekaligus sebagei tempat untuk mencurahkan isi hati kedalam bentuk tulisan dan menjadikanaya sebuah kaya pribadi ternyata itu sangat menyenangkan sekali.

saat ini, matahari tepat berada di atas kepala saya, saya teringat seseorang. waktu yang sudah lama selakali. hampir kurang lebih 7 tahun, tapi rasa itu masih bersemayam dan berputar-putar di benak saya.

waktu kami bermain ke sebuah pegungan yang cukup jauh dari perkampungan kami. perjalan menuju tempat itu kurang lebih hampir 1 jam dengan berjalan kaki, kami pun saling membawa peralatan masak, ayam yang sudah di bersihkan dan baha-bahan alakadarnya.

kami mulai berajalan kira-kira setelah dhuhur, akhirnya kami sampei di tempat tujuan dan kami pun langsung menyiapkan tempat untuk memasak. saya orangnya sedikit aga pemalu, jadi klo ketemu sama cewek apa lagi tidak beguitu dikenal, saya lebih banyak menundukan kepala.

ritual pemasakan ayam pun kami mulai, dari mengumpulkan bahan bakar sampei denagan menyiapkan bumbu-bumbunya, setelah itu kami membagi tugas, ada yang memasak nasi, ada yang mencari kayu bakar, ada pula yang memanggang ayam. saya mendapat tugas sebangei pemanggang ayam, kami berdua ditugaskan untuk itu. ini pasti rekayasa teman-temanku supaya aku barsama denganya. sekali ku litikkan mataku padanaya tanpa dia tau kalau aku diam-diam memandangiya.

ada getaran yang mengherankan ketika memndang wajahnya, serta ada keanehan-keanehan saat bersamanya. Aku mulai binggung, sedikit bimbang. apa yang terjadi dengan perasaanku ini, terasa denyut nadi semakin kencang, pemompaan jantug pun terasa semakin cepat, aneh sekali tidak seperti biasanya.

kata orang itu adalah petanda ada rasa, mulai timbul rasa benih cinta. aku pikir itu keliru, tidak mungkin anak kecil bisa menyimpan rasa. sungguh tidak masuk akal memang. Benar-benar aneh.

Sekarang, setelah tujuh tahun berlalu. saya lebih bingung lagi, apa yang hasus aku lakukan sekarang ini yang sudah lima tahun tak pernah berjumpa dengannya, semuanya terasa telah berubah, tidak seperti dulu. dia sudah milik orang lain.

sekarang tidak ada lagi keidahan seperti dulu, kami sudah sama-sama dewasa, kami punya tujuan dan cita-cita sendiri-sendiri, dan juga tempat dan propesi kami saat ini pun saling berjauhan. Mungkin Biarlah semuanya mengalir apa adanya, kalau memang itu jodoh mungkin takan kemana. Kami haya bisa berdoa dan berusaha, atas apa yang terjadi nanti, selebihnya kami serahkan semuanya pada sang maha kuasa yaitu allah semeta alam.

Gami’ 02 oktober 2008. 15. 41

Bulet, tapi menarik juga

By : Didi suardi

hati yang terus dimainkan oleh perasaan yang mengencam, membara, seolah terus memikirkan diri sendiri yang terasa terbakar oleh keadaan. Setiap kali mendengar kata-kata itu seolah mampu mengusikkan hati ini menjadi sebuah api yang membara dalam jiwa yang terendam oleh perasaan yang terus menyadarkan diri bahwa itu salah, tapi aku merasa, aku tak mampu lagi menahanya terus-mennerus walau kadang hati ini ingin berontak.

Ketika memasuki ruang itu pun aku merasa ada hal secara tiba-tiba yang nampak di depan mata, pada hal kenyataanya itu tidak ada. haya hati yang peka yang bisa merasakan jiwa-jiwa yang terendam. aku takut akan menjadi api yang sangat panas yang akan menghanuskan jiwa-jiwa yang lainya.

Kata-katanya ko bingung yah, bulet mungkin juga bagi orang yang membacaya sedikit bingung, karna sudah lama sekali tidak meulis, ya akhirnya dalam memaparkannya sedikit agak acak-acakan, benar juga perlu bayak berlatihan menulis, agar tulisnnya kembali mengalir, enak di baca, dapat langsung dipahami dan mudah dimengerti, tapi sulit sekali untuk mendapatkan hasil yang maksimal. mungkin bukan haya dengan banyak menulis tapi juga dengan terus memperbanyak membaca, terutama bacaan yang berbau sasrta.

Menulis bagi saya peribadi adalah sebuah keindahan, bisa juga sebuah hoby. Tapi tak sedikit orang mengatakan menulis itu sangat membosankan dan juga menjenuhkan.

Keuntungan dari menulis bukan haya itu saja, tapi disamping dapat meringankan beban pikiran kita, saat kita punya masalah dapat pula sebagei pemasukan sekaligus sebagei tabungan dikelak setelah kita meninggal nanti.

Perlu adanya kebiasaan yang terus menerus. Kerajin, keuletan dan kecerdasan dalam merangkai kata-kata untuk menjadi penulis proposional. Tapi semua itu tak lepas dari kerja keras dan kedisipinan yang tinggi.

Saya baru mulai bisa merasakan indahnya menulis ketika motipasi dan keinginan untuk maju itu muncull. Menjadi seorang yang sukses adalah sebuah dambaan setiap orang juga masa depan yang cemerlang. Mungkin Dari situ lah begitu pentingnya masa depan sebagi tujun hadup di dunia dan akhirat.

Semoga allah memberikan kita semau jalan agar mendapatkan apa yang kita cita citakan.amiin

Gami’ 30 september 2008.08. 22

Tahap pendewasaan

By : Didi suardi

Di salah satu sudut kota terdapat seorang pemuda yang sedang teringat dengan sanak keluarganya, setiap mumentung yang datang, itu dapat mengulang kembali memori masa lalunya yang akan meghayutkan dia dalam kesedihan. bagaimanapun kehadiran mereka itu jauh lebih berharga dengan apa yang ia miliki sekarang ini. hati yang diselmuti oleh kesediahan, kini ia barus menyadari betapa pentingnya mereka di sampingnya, ia merasa tak ada yang lebih dibanggakan dari keberadaan dan kumpul besama mereka dengan penuh keceriaan, pokoknya bagi dia keluarga adalah segalanya.

Udara siang itu semakin panas walau kata orang musim panas akan segera berakhir dan musim dingin akan sehgera datang mengantikanya. Malam-malam yang diselimuti oleh kegelapan yang mencekam hayut dalam lamunan yang sangat dalam membuat teringat kembali kepada mereka.

Seorang diri yang jauh dari perkampungan tempat kelahiranya, kini haya seorang yang harus mencoba mendewasakan dirinya dengan keadan yang setiap kali ia harus melakukanya sendiri, mecuci pakaian, masak secara bergiliran, besih-bersih rumah, dll. Tapi itu lah membuat ia jauh lebih dewasa, mandiri serta melatih tangung jawab.

Semua yang ada disi kita akan menjadi saksi, baik itu dalam hal kebaikan maupun dalam hal keburukan, jadi tak ada pilihan bagi kita untuk mengelak atas apa yang kira lakukan di masa lampau. Kaki, tangan, mata dan seluruh anagota tubuh kit akan menjadi saksinya.

Semoga kita bisa selalu mengunakan titipan allah ini pada hal hal yang posotip. Amiin

Gami’ 27 september 2008. 13.28

Sunday, October 5, 2008

Terbangun

By : Didi suardi

Malam itu aku tebangun akibat karena suara-suara yang sangat membisingkan, suara itu terdengar persis berasal dari arah samping tidurku, saat itu aku sedang tidur nyenayk sekali, sedang asiknya menikmati mimpi di malam hari. Tapi gara-gara suara itu akupun jadi terbangun. Setalah ku tengokan wajahku ternyata salah satu temaku sedang bermain komputer.


Malam-malam begini bermain komputer sampei-sampei ia lupa sudah jam berapa sekarang ini, aku kira ini memang masih sangat terlalu malam. Disamping suaranya yang bikin orang sulit tidur juga tak baik bagi kesehatnanya. Akibatnya yang terjadi ia suka membiasakan tidur di pagi hari. Malam ia gunakan untuk bermain komputer entah itu bermain game ataukah bemain chating, aku tak tau persis tapi tampaknya ia sangat senang dengan permainan barunya itu, karena aku pun tak tahan lagi kalou terus begini, bukan hanya kesiangan tapi waktu malamku akan habis hanya mendengarkan suara bising itu.


Mulai aku terbagun ku lirikan mataku ke heandphon yang tergeletak di samping tempat tidurku. Teryata jam baru saja menunjukan pukul 01.29, “aduh iniksan masih malem pagi pun masih lama, dan shahur pun masih 2 jam-an lagi” pikirku. dengan rasa terpaksa aku bangun dari tempat tidurku. Langsung kubisikan “ini masih malem om, sebaiknya sampen tidur“ dengan isyaratku tadi ia baru sadar klo sekarang sudah larut malam. Dengan serentak ia pun langsung mematikan komputernya. Entah apa yang ia pikirkan, sungkan ataukah malu, atou mungkinkah ia memang benar-benar sudah merasa ngantuk.


Setelah itu aku bisa meneruskan kemabali beristirahatku, baru saja ku memajamkan mata tiba-tiba saja temanku memabangunkan, “ada apa lagi sih ini” gundamku dalam hati, “syahur,syahur” seorang teman membangnkanku sambil mnggoyang-goyangkan kali ku. “Hah jam berapa sekarng, ko dah syaur, apa ga salah nih” sahutku dalam hati.


Rasanya aku baru saja memejakan mata beberapa menit yang lalu, tapi ternyata sudah hampir dua jam aku tertidur, dengan mata yang masih tersa berat, seluruh sendi terasa pegal juga kepalaku yang sedikit pusing akhirnya langsung ku pakskan untuk bangun, dari pada aku tak sahur kan bisa repot, bisa-bisa saya bisa batal nanatinya, aku ga mau. lagi pula aku kan orangnya punya penaykit anemia, jadi apa bila lapar sedikt saja langsung terasa di kepala.


Gami’ 27 september 2008. 14.50


Friday, October 3, 2008

Mampukan kita

By : Didi suardi


Siang tadi saya baru saja diajak chating sama seseorang yang sama sekali saya tidak pernah menganalnya. Kalau saya perhatikan sekilas Orang itu ternyata agak sedikit aneh, masa propesi sebagai pembatu bisa bermain komputer hampir setiap hari dan itu dia lakukan dengan porsi yang cukup lama. kadang sampei seharian penuh terus di depan komputer.


Merut saya, bagi seorang pembantu rumah tangga yang menurut trasdisinya, tak ada waktu untuk bermain, bahakan untuk sekedar istirahatpun kadang ada yang tidak cukup, tapi yang satu ini, sangat berbeda sekali, saya malah curiga jangan-jangan dia bukan seorang pemabantu tapi lebih tepatnya adalah seorang mahasisiwi yang sedang setudi di negri kelahiran tokoh sang legendaris kita je khi chan, yaitu negri hongkong.


Satu hal lagi yang membuat saya bingung dia sangat mahir dalam berbahasa inggris, ini yang membuat saya tidak habis pikir, padahal umurnya baru 19 tahunan, dan untuk seumuran itu tidak mungkin sudah lulus dari bangku perkuliahan. Dan tampak ketika ia berbicara, terlihat dia seolah seorang yang berpendidikan menengah keatas sejajar dengan mahasiswa, terlihat saat bebicada dalam berbhasa inggris.


Saat saya introgasi, iya tetap mengaku sebagei pemnbantu, tapi sertiap saya bertanya tentang perkuliyah disana dia seolah tau betul keadaan disana, dari sisitim perkuliyahannya, sampei dengan biaya keseharianaya.


di chating-an kami berbica banyak, baik mengenai diri saya peribadi maupun dirinya sendiri. Sempat juga curhat dan dia menanggapinya dengan baik sekali ucapan saya. Waktu itu saya bercerita tentang pengalaman yang paling menarik ketika sebelum berangkat kemesir. Ya seputar seorang cewek yang saya kagumi sejak kecil dulu sekarang juga hehe...


tapi keadaan semuanya sudah berubah. Walau terlihat lebih dekat tapi jika ditinjou dari psikologis kejiwaan kami semakin merenggang, bagi saya itu tiidak masalah, yang saya hawatirkan dia mulai dekat dengan seorang cowok yang keperibadiannya kurang begitu menerapkan norma-norma agama dalam kesehariannya, sampei akhirnya dia terjerumus ke hal-hal negatip saya tidak ingin itu.



Perubahan yang kini semaklin melesat bagai roket yang terelepas dari sarangnya. begitupun antara aku dan dia seolah semakin berjauhan.


Memang benar semua itu atas kehandak sang maha kuasa, kita atak bisa apa-apa, kita Cuma hanya bisa berdoa dan berusaha sekeras mungkin, selabinya allah pula lah yang maha bekehendak atas apa yang terjadi di dunia ini, tapi disisi lain kita punya kemaun untuk merubah sisi kekurangan kita untuk lebih baik, tapi kenapa dengan yang satu ini aku tidak bisa.


Kita sebagei manusia biasa tidak lepas dari yang namanya berbuat salah dan lupa, tapi kadang kita merasa menjadi mausia yang paling sempurna, padahal melihat keadan kita itu sangat kecil di mata allah, bahkan kita sangat hina, terlebih bagi mereka yang bukan lagi hamba allah yang tak lagi menyeru kepada kebaikan dan melarang ketindak kemungkaran.


Akankah masa depan kita menjadi orang yang sukses yang bisa membanggakan kedua orang tua kita dan seluruh keluarga, dapatkah kita mengajak mereka kejalan yang lebih baik. Ataukan kita haya akan menjadi bahan celaan di mata mereka, kita punya harapan dan cita-cita. Semua itu akan terbuka buat kita selagi kita memiliki kemauan dengan disertai pula usah dan kerja keras yang konsisten, rakin ,ulet, serius, disiplin serta ikhlas . Agar semua yang kita lakukan itu memiliki nilai di hadapan alalh swt.


Biasanya kesusksesan itu identik dengan kerja keras, kedisiplinan, rintnagan, dan ujian. Seandainya kita sudah meiliki sifat-sifat itu, kita akan memilik kesepatan serta peluang untuk mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amiin.


Yang penting kita ada kemauan, mau dunia atau akhirat ataukah mau keduanya. Silahkan…tentukan sediri.


Gami’ 27 september 2008. 11.33

Menulis melatih berpikir

By : Didi suardi

Suatu hari saya membaca sebuah artikel yang sudah cukup lama sekali terbitan 2003, saya baca satu-persatu, disitu sedang membahas tentang “gagaimana membuat karya ilmiah” dan atikel lainya, “bagaiman tulisan bisa enak dibaca” ya, kata-katanya kurang lebih seperti itu.

Saya benar-benar terkesan sekali, walau dengan bahasa yang santai ia menjelaskan, tapi menarik juga. Disitu ditulisakan “tulisan yang enak dibaca itu adalah seperti komunikasi, orang mengobrol”. Mengobrol kata disitu terkesan sepereti ucapan yang tidak memiliki nilai ilmiyah. Tapi saya baru mengerti kalau yang dimaksud “mengobrol didsini” adalah ucapan/tulisan yang dapat menyentuh pembacanya, seirama dengan alur pemikirn sang pemaca atau apa yang sedang ia pikirakan saat itu, diantaranya bagi orang yang sedang jatuh cinta. Bacaan yang dibacanya pun harus seputar percintaan. Contoh lain bagi seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya disibukan dengan mengurusi anak, mereka akan lebih tertarik dengan buku-buku atau bacaan yang membahas tentang psikologi anak dan sebagainya.

Disalah satu atikel yang lainya berjudul “menulis begitu menyenangkan”. Disana dijelaskan, meulis disamping dapat mengingat masa yang lalu juga dapat menuangkan pikiran kita yang sudah mengalami peroses panjang dalam belajar, dari mulai awal mengenal bangku sekolah sampei dengan sekarang ini. nah ini juga bisa menguji pikiran kita dalam mengingat suatu kejadian dimasa lampau.

Ternyata bukan hanya itu saja menulis, juga adapat menjadi ajang untuk berkarya, sekaligus menjadi teman dalam kesunyian.

Rasa cinta, sedih, senang, marah yang sudah terpendam sejak lama dibenak kita. Ini pun akan menjadi perbindancanagan yang menarik saat kita menuliskannya ke dalam bentuk catatan peribadi atau catatan keseharian, mungkin 20-30 tahun yang akan datang tulisan itu akan menjadi kenangan yang terindah dan berharga dalam hidup kita, sekaligus mengingatkan kita ke masa lalu.

Saya sendiri sangat senang dengan aktifitas baru saya ini sebagei penulis peribadi, mencoba menuliskan sautu hal yang bagi saya itu menarik ataupun ada sedikit masalah, pada saat itu pula saya berusaha menuliskan apa yang baru saja terjadi disekeliling saya, baik itu kisah pribadi ataupun kisah orang lain, baik langsung di depan komputer atau menuliskannya ke dalam sebuah kertas terlebih dahulu. Ketika saya membacanya ulang, saya hampir tidak menyadari kalau ini benar-benar tulisan saya sendiri, dan saya juga mulai seduikit bisa menilai, apakah tulisan saya ini semakin baik atau semakin buruk atau sama sekali tidak mengalami perubahan.

Dalam sebuah keseharin kita, bayak sekali yang bisa kita dapatkan, cuma kita yang menyiakannya begitu saja. Padahal kalau dikumpulkan itu akan menjadi catatan penting saat tua nanti. Ketika otak dan seluruh anaggaota tubuh kita sudah mulai melemah saat itu pula daya ingat kita semakin berkurang. Nah agar kita bisa mengingatnya diperlukan banutan, saya kira melalui tulisannya yang dulu pernah ditulis ini akan sangatr membantu sekali dan itu jauh menyenagkan dari pada mengdengarkan lewat hasil rekaman.

Tapi tak semudah apa yang kita pikirkan memang, menulis pun perlu ketampilan. Tak semua orang bisa menuangkan apa yang ada dalam pikiranya kedalam bahasa tulisan. Ada lagi yang haya pintar mengolah bahasa lisan, tapi merasa kesulitan di saat menunagkanya kedalam bentuk tulisan. Kami kira itu hal yang biasa, dan itu wajar.

Nah… dengan terus belajar menulis, maka ini akan membantu meningkatkan daya menalar anda juga melatih ingatan, sejauh mana daya pikir anda, mengingat, mengolah bahasa dsb disitu diperlukan latihan yang rutin, agar otak kita semakin lancar dan bahasa kita semakin mengaklir, karena itu diperloukan juga olahraga dan gizi yang seimbang. Kita.

Melatih otak kita bisa melakukanya dengan membaca, menghitung, menghapal dll. Cukup dengan menulis, ini sudah mencakup tiga katagori diatas (membaca, menghitung dan menghapal). Sedangkan gizi bagi otak kita, bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin, protein, dll. ini akan menunjang pertumbuhan otak anda secara maksimal. misalnya saja, dengan selalu mengkonsumsi buah-bauahan ataupun sayur-sayuran.

Kalau kita bisa menjaga dan selalu membiasakan seperiti itu (membaca red), kita akan mendapatkan kemapuan otak secara maksimal

Oleh karna itu biasakan untuk menulis, karena dengan meulis anda akan mendapatkan susatu sisi yang sanagat menyenagkan. Selamat mencoba.

Gami’ 30 september 2008. 06.10

saat lebaran tiba

by : Didi suardi


hari sudah mulai terasa gelap, sang surya yang sehari penuh bertugas menyinari alam semesta ini, mulai menengelamkan jasadnya dibalik awan sampei akhirnya ia seolah masuk kedalam perut bumi. Tayangan di tiap acara tv pun mulai sibuk berganti propesi dengan menampilkan beberapa tayangan seputar menjelang lebaran di berbagai tempat. Bahkan ada tayangan yang meliput aktipitas malam itu di seluruh pelosok dunia. indonesia tampak menjadi tayangan yang cukup meriah di salah satu statsiun tv asing karena mereka pikir indonesia adalah bagian dari negara yang mayoritas agamanya islam.


Tapi di mesir sendiri telihat sangat sepi, kalau dibandingkan dengan negri kami jauh lebih meriah negri kami, karena mungkin tradisi takbiran atau keliling dengan membawa bedug dan pentongan, seta beberapa alat musik lainya seperti kolol, drem dll yang dianaikan di atas mobil itu tidak terlihat tampak disini(mesir). di indonesia, malam menjelang lebaran adalah mumentum yang tepat untuk melepas kecerian dan juga sebagei rasa sukur mereka, hanya latunan takbirlah yang bisa mereka berikan atas segala nikat yang allah berikan selama ini.


mesir yang menjadi pusat peradaban dunia, dengan sejarah klasiknya mampu menyenarik simpati wisata asing untuk singgah disana, kalau kita berkunjung ke masjid azhar atau piramit dsb, kita akan menemukan bayak sekali para sejarhawan barat dan warawan asing yang menggali informasi yang akan ditayangkan di televisi-televisi Negara mereka.


pemasukan devisa Negara pun yang hampir sebagiannya itu dihasilkan dar mereka (wisata asing), coba kita bisa bayangkan, sekian orang yang tinggal dan menetap disana, itu bisa mencapai ribuan atau bahkan puluhan ribu pengunjung, baik itu yang wisatawan asing, pekerja, pengamat maupu sebagei pelajar. Maka jangan heran kalo di tiap-tiap sudut kota tentunya di kota kairo terdapat banyak sekali orang selain warga negaranya sendiri.


Nah malam lebaran kali ini, walau tampak sepi, tapi di sisi lain juga memiliki beberapa keistimewahan yang tidak bisa kita dapatkan dikampun sendiri, dan walupun jauh dari keluarga bagi kami itu ini adalah sebuah tantangan, bagaimana kita bisa melatih diri sendiri dengan tanpa kehadiaran sebuah keluarga. walau mumentum sekarang ini yang menurut terasisi kami hari ini adalah yang sangat meriah, semua anggota keluarga berkumpul jadi satu untuk bersilaturahmi, dari situlah timbul keceriaan betapa berartinya sebuah kekerabatan yang rukun, selaras dan seimbang.


Lebaran kali ini, bukan yang pertama melainkan yang keempat kalinya bagi penulis, selama itu pula tidak pernah lagi merasakan kehangatan kecupan tangan kedua orang tua, kalau saya boleh jujur pada diri saya sendiri, hati ini sangat merindukan mereka, sedih, rasa ingin jumpa masih tetap selalu membara dalam jiwa kami. Tapi harus bagaimana lagi keadaan yang memaksa kami untuk tetap tegar menghadapi semua ini, bergelut dengan keadaan dan harus berpisah dengan mereka. Semoga ini menjadi awal dan akhir yang membawa kebaikan.


Mudah-mudahan ini akan menjadi yang terbaik buat kami, buat keluarga kami dan buat semuanya. serta kita bias membawa apa yang telah dicita-citakan, amiin.


Ya allah hanya sebuah kalimat shukur dan doa yang dapat kami lantunkan, semoga allah selau memebrikan jalan yang engkau kasihi dan engkou ridhoi, amiin.


Gami’ 02 oktober 2008. 13, 39

Ternayta ada tugas, semangat.

By : Didi suardi


Empat minggu yang lalu, saya dikasih tahu sama seorang teman agar membuat tulisan sebanyak 30 judul yang berkenaan dengan keseharian di bulan ramadhan., waw…! porsi segitu bayak harus diseleseikan dalam dua minggu ini menurut ukuran saya pribadi sangat tidak memungkinkan, saya membayangan apakah mampu mengejar target semaksimal mungkin atou tidak sama sekali, karena ada salah satu teman saya, dia bilang “saya juga belum menulis sama sekali, saya sibuk” saya terkejut mendengar perkataan seperti itu, dia sudah tahu impormasinya sejak awal tapi belum menghasilhan tulisan samasekali. Lantas apa aja yang iya lakukan dalam kesehariannya.


Kami kira, disela-sela kesibuakan seseorang, sesibuk apa pun dia, kami yakin dia bisa menyempatkan untuk menulis, kalo memang ada kemauan.


Saya teringat sebuah kisah pembantu rumah tangga yang menjadi seorang tkw di luar negri. Disela-sela kesibukanya sebagei seorang pembantu dia menyempatkan watunya untuk menulis, saat malam tiba satu jam ia gunakan untuk menulis, dan pada liburan datang ia pergi ke wanet dengan mengetik hasil tulisanya itu. Sampei akhirnya jadilah sebuah buku.


Coba kita bayangkan seorang pembantu saja bisa berkarya, apa lagi kita sebagei seorang mahasisiwa, terlebih sebagai azhari yang menurut pandangan masarakat kita jauh lebih unggul dalam bidang keilmuan dan hal-hal yang bekenaan dengan agama. Tapi kadang kita hayut dalam keadan yang sangat mengasikkan, hanyaut dalam kemalasn sehingga kita lupa akan tujuan kita disini(mesir). Berarti disini kita bisa menyimpulkan banyaknya aktifitas bukan ditentiukan oleh kemapuan yang ia miliki tapi kesunguhan, keuletan, kedisiplinaan dan kemauan untuk maju kedepan menjadi orang-orang sukses seperti mereka.


Dalam dua putaran jam sama dengan 24 jam dalam sehari semalam, sepertiganya kita bias guankan untuk beristirahat, sepertiga kedua kita bisa gunakan untuk urusan peribadi, dan sepetiganya lagi kita bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, seperti mengikuti diskusi atau acara-acara yang lainya.


Selama 8 jam waktu untuk mengurus diri sendiri sangat lah cukup kalau kita mau membaginya dan membuatkan jadwalnya, seperti dua jam untuk membaca al-qur’an, empat jam untuk membaca, dan dua jam lagi bisa guakan memperdalam hoby seperti kursus bahasa inggris atau bahasa arab.


Berati hal yang terpenting disini adalah bagai mana kita mengunakan waktu dengan sebaik baiknya. Tak sedikit orang yang sudah bertahun-tahun berdomisili di tanah kelahiran firaun ini sedikit sekali perubahan yang mereka dapat, padahal tujuan mereka pergi kesini, tak lain dan tak buakan hanyalah bertolabul ilmi. Saya memberanikan bicara sepeti ini karna tak sedikit teman-teman saya yang sering gagal dalam kelulusan setiap tahunya.


Agar kita tdak menyesal dikemudian hari, mari kita sama-sama saling mengingatkan dalam hal kebaikan, termasuk memotivasi teman agar selalu rajin dan medapatkan apa yang mereka cita citakan.


Semoga kita menjadi seorang yang bisa meraih kesiuksesan dengan jerih payah dan keringat kita endiri, karna banyak orang yang suskses buakan karna diri sendiri melainkan karena orang lain.


Tulisan saya ko aga sedikit kasar dan memaksa ya, ini mungkin terpenagruh oleh keadaan, atau bisa jadi karna bacaan atau mungkin karena lingkungan. Ini perlu adanya perbaikan supaya tidak ada yang merasa tersinggung tapi yang ada hanyalah tulisan memotivasi diri untuk semangat juang. maaf ya… tulisanya mungkin aga sedikit kasa, sorry.


Gami’ 30 september 2008. 15.27

Keluarag yang harmonis

By : Didi suardi

Satu senyuman di malam hari membuat pagi yang akan datang lebih menyenangkan, apa lagi senyuman seorang istri untuk seorang suaminya, sungguh sangat menyenangkan dalan sebuah kelurga terjalin keharmonisan dan perhatian satu sama lain, saat sang suami sedang memerlukan perhatian saat itu pula sang isrtri sebagei teman bicara, begitu pun sebaliknya ketika sang isrti mendapat kesulitan dalam keluarga seorang suami pun tak haya diam tapi sebagei mana ia sebisa mungkin meringankan segala permasalahan.

Sungguhh dalam keluarga tak perlu memiliki bekal yang terlau berlebihan tapi dengan cinta, kasih sayang dan saling mengerti satu sama lain membuat suasana keluarga menjadi taman dalam surga, sangat sangat menyenagkan sekali.

Dalam suatu pernikahan perlu adanya suatu kesamaan sekaligus kecocokan, agar pada suatu nanti bisa terjalin keselarasan dan keserasian. serta cinta dan kasih sanyang itu sangat perlu dalam menjalin keluarga, bahkan kalau bisa lebih dari itu perlau ditanamkan adanya rasa saling berbagi dan memahami. Agama dalam mendidik sebuah lingkup keluarga menjadi salah satu acuan dan sandaran dalam membentuk sebuah keluarga yang islami. agama bukan saja kepercayaan tapi lebih tepatnya sebagei rujukan dalan segala urusan baik itu urusan dunia maupun dalam urusan akhirat.

Seorang isrti atau suami yang tak lagi bisa saling membari dan berbagi, dalam keluarganya tidak akan terjalin keharmonisan. Karena letak keharmonisan sebuah keluarga salah satunya terlatak dalam sikap keseharin.

Banyak sekali penomena di luara sana, banyak keluarga yang tidak mampu medidik istri dan anaknya atou seorang istri yang mampu mencurahkan perhaianya bagi seorang suami dan bagi anak anaknya akibatnya mereka lebih bayak menyibukan di luar rumah, atau seorang suami samapai memberanikan selingkuh.

Kalau ini di biarkan akan menjadi sebuah kesulitan yang sangat besar, walau pun terlihat sepeti berkecukupan uang, kedudukan, kehormatan, dan kekayaan lainya, klo kebutuhan batin tidak terpenuhi ini akan sanagat tidak puas dengan apa yang dimilikinya, jadi sangat jelas kebutuhan jasmani dan rohani ini harus saling berkesinambungan.

Gami’ 27 september 2008. 04.57

Kehadiran seorang teman jauh lebih berharga dari segalanya

By : Didi suardi

ya allah… ya rabbi… ya tuhanku…


hari yang kulalaui sekarang ini terasa semakin mencekang perasaanku, aku takut akan jauh dari mereka, aku taku akan terjebak dalam kesombongan atas apa yang ku miliki sekarang ini, seperti aku takut akan sampai mengingkari nikmatmu pemberianmu. apa yang sedang terjadi sekarang dengan kehadirannya sobat baru seolah keadaan mejadi berubah sampei aku tak sadarkan diri kalau aku bukan lagi berjalan di atas tanah, tapi di atas permukaan api yang sangat membara, aku takut… takut sekali…!aku takut akan keadaan dulu yang penuh dengan keceiaan dan tawa disana sini menjadi suasan yang sangat mengencam. Bagiku teman adalah segalanya, aku tidak mau kehilangan satu teman pun, apa lagi menjadikanya ia musuh dalam hidupku, aku tak ingin. ya allah, ya tuhanku.


kalau saja dengan kehadirannya sang komputer ini dapat memperenggang silaturahmi kami, maka ya allah berilah jalan yang terbaik bagiku walau harus kehilanagn mainan baruku ini. Teman bagiku adalah bagei embun yang menyegarkan pada saat suasana yang sangat mencekan, teman adalah awan selalu memberi keteduhan disaat kami kepanasan (marah), teaman adalah matahri yang dapat menerangi disaat kegelapan datang dari perasaan keruh dan gersang, teman pula menjadi teman saat kejenuhan menyelimuti jiwa--jiwa yang tekekang oleh keadaan. Teman pula lah yang memberikan kegembiraan ketika kesedihan dan kcemasan itu datang. Jadi teman adalah bagian dari diri kita.


Mungkin aku tak lagi seperti dulu, seceria dulu, seagresive dulu, ketika mainan itu datang, saya mulai merasa ada yang renggasng diantara kami dan aku baru menyadarinya saat betapa pentingnya seorang kawan, tapi alhamdulillah dengan itu aku bisa semakin sadar, mungkin tak sepantasnya lebih menyibukan diri dengan urusan sendiri, mereka sebagei sahabat lebih menginginkan jiwa-jiwa yang lugu seperti dulu. Bukan rasa kemantapan yang kadang membuat orang lebih enggan denag kita.


Tapi aku juga bingung aku harus berbuat apa, aku seolah berada dalam situasi yang sangat bertentangan dengan satu sama lainnya. Dan aku pun mulai tak bisa bersikap seperti dulu, walaupu sepintas sedikit kekanak-kanakan, mungkin sekarnag terlihat sedikit dewasa segi sikap. Tapi dengan sikapku yang baru ini teman yang dulunya teman. teman dalam bicara sekaligus curhat peribadi pun mulai semakin enggan.


Aku harus bagaimana, aku juga manusia biasa yang memerlukan perubahan yang menuju kearah yang lebih baik, perlu adanya perkembangan, meningkatkan kapabelitas dan royalitas diri, disaat itu juga mereka lebih bayak diam hehe… aku juga belum mengarti betul itu kapabelitas apa?, mungkin yang aku tau hanya lah seorang yang memiliki sikap yang matap dan disisi lain ia memiliki kemampuan yang bisa diandalkan.


Kadang Yang membuatku tidak sadarkan diri, aku merasa seolah berada dipihak yang paling benar, kadang pula paling unggul sendiri, ini lah salah satu yang sagat aku takutkan. Kehilangan harta benda yang kita miliki tidak terlalu berbahaya, tapi perubahan sikap dan sipat yang mejuru pada hal-hal yang negatip jauh lebih menghawatirkan. Sebagei manusia biasa kita tidakan luput dari kesalahadn dan lupa, yang bisa kita lakukan hanya berusahan dan berdoa, selebihya allah yang berkehendak.


Saya ingin tetap seperti dulu yang jauh lebih tentram dan tenang walaupun tidtak seperti sekarang ini yang semuanya bisa kita dapatkan dengan mudah. Tapi indahnya persahaabtan jauh lebih berharga dari aap yang kita miliki. Bagiku itu jauh lebih menyenangkan. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki baiku persahabatan itu jauh lebih berharga


Ya allah sadarkan kami dari sipat-sipat yang tercela dan jauhkan dari sipat yang tidak engkau kehendaki… amiin


Gami’ 23 september 2008. 07.30