By : Didi suardi
Sebuah pengalaman yang sangat menarik bagi penulis, saat-saat yang sangat menyedihkan dan menegangkan bagi kami, tapi dengan itu semua kami bisa sadar ternyata pengorbabanan serta jerih payah saya dan teman-teman membuat kami sadar bahwa hidup itu buakn hanya sekedar santai atau bermalas-malasan, apa lagi kita memlihat bayak sekali dari mulai anak kecil sampai dengan orang tua, bahkan kakek dan nenek yang mengais rezeki di pingir jalanan, ada yang propesi sebagai penjual asongan, pengamen dsb. dengan berpakaian sangan minim dan sederhana, dan juga sebagian dari mereka banyak yang tidak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan Mereka tidur di kolong jembatan beralasan koran, sungguh sangat menyedihkan. Belum lagi yang kehilangan kedua orang tunya membuat mereka harus kerja keras.
Kali ini yang penulis alami memang tidak ada apa-apa dibandingkan dengan mereka, waktu dulu ketika saya masih duduk di bangku smp, setiap kali kami bernagkat kesekolah harus pagi-pagi sekali, karena kami hawatir gerbangnya sudah ditutup. waktu yang ditempuhnya pun memakan waktu cukup lama.
Setiap kami berangkat ke sekolah, jarak antara 200-300 meter memejadi jatah kami setiap hari yang memerlukan waktu sekitar 25 menit dengan bejalan kaki.
Waktu itu alat transportasi masih jarang, jadi paling tidak kami harus meunggu mobil akutan sedikit memakan waktu, dan itu kami melakukanya hampir selama 2 tahun.
Alasan kami kenapa harus berjalan kaki. untuk mendapatkan mobil angkitan, Saat dulu sebelum ada keributan antar desa. Desa kami dengan desa yang lainya masih terlihat ramah, rukun dan juga saling menghargai, tapi saat kerusuhan itu terjadi membuat kami harus terkena imbasnya.
Kerusuhan yang terjadi waktu itu, membauat kerukunan kami dengan tetangga desa sebelah menjadi tidak harmonis, kendaraan yang selau beroprasi masuk ke kampung kami jadi terhenti, mereka beralasan takut di keroyok, dibacok,dsb. Begitupun sebaliknya pemuda desa kami terutama yang terlibat dalam kerusuhan itu memjadi incaran di seluruh pelosok desa.
Saya meyaksikan sendiri pertarungan itu, mereka dari arah yang saling behadap-hadapan, satu persatu mebawa benda tajam, seperti pisau, golok, palu, belati dsb berlari kencang. Dari pemuda kami pun tak mau kalah mereka secara kompak menyerbu. Pada saat itu pula terjadi pertarungan yang sangat dahsat. Saya dan teman-teman saya haya bisa menyaksikan di bukit ketinggian, sambil merayap-rayap seperti tentara. Saat kami memasuki perbatasan, kami sudah dikjemput disana. Dan alahamdulillah kami semua selamat.
Kita bisa bayangkan posisi kami pertama adalah berada diwilayah musuh, saat kami tahu desa itu akan menyerang desa kami, kami segera meberetikan mobil itu. Kalau ini dibiarkan kendaraan itu akan masuk kawasan meraka, ini akan sangat membahayakan bagi kami. Akhirnya dengan sangat terpaksa, kami harus segera memberhentikan kendaraan yang kami tumpangi itu walau perjalanan masih sangat jauh, tapi harus bagaimana lagi, kami saat itu tidak ada pilihan, malah yang ada rasa kecemasan dan ketakutan, jangan-janagn kami mau diapakan.
Kami mulai memasuki semak-semak belukar, menerobos pemakaman, perkampungan, pesawahan, dan perbukitan. Jadi dari atas sana kami bisa menyaksikan bagaimana mereaka dengan garangnya menyerbu desa kami, pemuda desa kami pun tidak tinggal diam. Dipukulah kentongan yang mengisyaratkan mereka sudah datang dan siap untuk menyerbu. Satu, dua orang berlari dengan membawa golok.
Senin, 04 oktober 2008. 14.15
***
Persaan waktu itu yang ada haya ketakutan dan kehawatiran di kedua belah pihak, bagaimanapun mereka tetap sodara kita, tetangga kita, teman kita dan juga sodara kita dalam satu keyakinaan. Bagaimana bisa kita harus memeranginya, sedangkan disi lain walau terlihat kita menang dalam pertempuran, tetapi pada hakekatnya kita telah terbedaya oleh nafsu syaian.
Aku dan teman-teman berlalri keperkampungan yang terlihat sepi, aku terkesan heran saat melihat penduduk kampungku sibuk membawa peralatan rumahnya, termasuk ibuku sendiri sudah beriap-siap mengemasi barang-barang, mereka takut akan membakar rumah dan melukainya. Suasanya kampung diwaktu itu sangat ramai sekali, penuh dengan teriakan orang yang ketakutan dan tangisan anak-anak kecil.
Denagan paniknya seorang ibu membuat anaknya jauh lebih panik lagi. Ibuku sudah mebungkus pakaianku dan pakaian adik-adiku. Mereka semuanya sudah besisp-siap bersama dengan keluarga lainya untuk mengungsi ke desa lain.
Saat kami akan memasuki kampung lain kami harus melewati pesawahan dan dataran tinggi, kami melihat segumpalan api yang cukup besar persis di tempat kerusuhan tadi. kami semakin panik. Dengan perjalanan yang cukup panjang dan memelahkan kami pun sampai di sana, seta meraka kerabat kami yang tinggal disana sudah menyambut di depan perbatasan, sebelumnya kami kesana ibuku sudah mnyuruh adiku untuk emminta izin tinggal disana untuk sementara waktu, maka ketiaka kami sampai disana mereka sudah tangkap cepat bahwa kedatangn kami kesina untuk mengungsi.
Dua, tiga jam sudah berlalu. Aku mebayangkan bagaimana suasana pertempuaran itu. Aku takut ada darah tercecer diamana.
Tidak disangka waktu sudah sangat sore, tapi tampaknya kampung kami masih tidak ada tanda-tanda penyerbuan atau rumah-rumah yang dibakar. Kami penasaran bagaimana keadaan kampung kami sekarang ini.
Tiba-tiaba salah seorang pemuda datang menghampiri dan mengimpormasikan bahawa insya allah sekarang kita dalam keadaan aman. Dia juga meberitahuakan bahwa api yang besar tadi yang seperti rumah dibakar itu bukan rumah kampung kita tapi rumah kampung sebelah, para pemuda semuanya meyerang sampei kekampung mereka dan mebakar salah satu rumah tua yang terbuat dari bambu.
Senin, 05 oktober 2008. 12.15
***
Sejak dari kejadian itu kekerabatan kami dengan kampung sebelah menjadi renggang, setelah beberapa tahun, kurang lebih dua tahun lamanya. oleh sebab itu kendaraan tak lagi mau masuk ke kampung kami, dengan alasan mereka masih teroma takut diapa-apakan. Selama itu pula kami harus bejalan ke kampung lain untuk mendapatkan akutan kesekolah. Sampai akhirnya kami bisa bertahan samapi lulus sekolah. Dan sebagian yan lain ada yang berhenti sekolahnya dengan alasan pulang dan pergi yang sangat melelahkan.
Ketika ujinan akhir sekoalah akan dimulai, seperti tahun-tahun sebelumnya, bagi para pererta ujin diharuskan mengikuti pelajaran tambahn untuk memberi kemudahan dan membantu dalam menjawab ujian akhir sekolah. Bagi teman-teman yang rumahnya tak juah dari sekolah ini mungkin tidak bermasalah, tapi bagi kami yang jauh dan transportasi sanagat sulit membuat kami harus berpikir ulang. Apa lagi mungkin setelah pelajaran itu usai, kami berpikir apakah masih ada kendaraan atau tidak?.
Sebagian teman-teman ada yang memilih belajar di ruamah, dan sebagiannay ada yang mencoba-coba. Les sebagai tambahan pun dimulai. Ternyata pirasat kami benar, kendaraan ke kampung kami itu sama sekali tidak ada, hampir dua jam lebih kami menunggu, tapi hasinya nol. karna hari sudah mulai sore, Dengan terpaksa kami memutuskan untuk berjalan kaki. ada yang mengusulkan sebaiknya kita memotong jalan dengan melewati peasawahan, pemakaman, hutan kecil, menyebrang sungai, dan satu perkampungan.
Karena waktu yang sangat mepet dan tampaknya sebentar lagi akan menjelang malam ini sangat tidak mungkin kalau kami mengambil jalan seperti biasanya, dengan berat hati kami menerima usul salah satu temanku itu.
Perjalanan kami mulai bengan melewati sebuah perkampungan yang cukup ramai, pasar dan juga pertokoan. Masarakat memerhatikan kami dengan sedikit heran mungkin mereka tidak terbiasa menyaksikan sekelompok anak smp yang masih bepakaian seragam pada sore hari menjelang malam. Sesampai kami memasuki pesawahan disana kami melihat keindah alam semesta yang begitu luas, persahabatan, kekompakan dan kesetiaan, membuat perjalanan kami semakin menarik.
Perkampung dan pesawahan sudah kami lalui, tinggal melewati hutan kecil, pemakaman, dan satu perkampungan lagi. saat melewati hutan-hutan kecil tiba-tiba hujan lebat, dan akhirnya kami beisrirahat sejenak, tapi tampaknya hujan semakin deras, salah satu temaku menyarankan kalo kita menunggu sampai hujan berhenti kayanya kita bisa kemalaman sampei dirumah, itu pun harus melewati pemakaman dan satu perkampungan lagi. Ini sangat membahyakan bagi kita semuanya.
sang surya pelahan mulai memasuki sangkarnya, langit tampak semakin gelap dan hujan semakin deras. Tubuh yang sejak tadi pagi haya dimasuki makanan kecil, kini seluruh angota tubuh terasa lemas, sedangkan disana tak ada yang bisa kami makan. Disi lain kami harus meneruskan perjalanan kurang lebih satu jam-an lagi.
Selasa, 06 oktober208. 13.05
***
Saat melali pemakaman ada hal hal yang aneh disana, tampak dari kejauhan seorang kakek tua sedang mengali tanah, berapakaian aneh, dan berwajah serem. Pada mulanya kami tidak mau mendekatinya, tapi harus bagaiman lagi jalan haya ada jalan satu satunya, mau tidak mau kami harus melewatinya.
Pelahan kami berjalan di sampingnya sambil ucap
“Permisi kek!”
“Adek-adek mau kemana” betanaya si kaket tadi
Kami cukup terkejut mendengarnya.
“kami Mau pulang kek” salah sau teman kami menjawab
“Hati-hati”
“Iya kek, terima kasih”
kami merasa lega, ternyata kakek tadi adalah seorang pengali kuburan biasa. Huhk…hampir saja membuat kami terkejut
Suasana di pemakaman itu gelap sekali, seluruh dindinya tertutupi oleh pepohonan dan dedaunan yang sagat lebat sehingga cahaya matahari tidak masuk kedalam. Pelahan-lahan kami berjalan dan akhrinya kami sampai juga di pintu keluar, tapi tamapaknya hujan masih deras. ada yang menyarankan agar kami berhenti sejenak berarti dengan terpaksa kami harus segera melangkahkan kami karena matahari sudah mulai tenggelam, sedangkan kami harus melewati satu perkampungan lagi yang kurang lebih memakan waktu sekitar setengah jam-an.
Saat melewati perkampungan kami melihat sekelmpok anak-anak keci berpakaian kokoh, berkopeah, dan bersarung sambil menyandang payung, tampaknya mereka akan pergi mengaji.
tidak terasa ternayata kami sudah sampei di kampung halaman. sebuah perjalanan yang melelahkan dan bayak mengandung resiko itu dan walau seluruh aggota badan kami mengigil kedinginan dan perut terasa lapat pada akhirnya kami dapatl pulang dalam keadaan selamat Kami pun pulang kerumah masing-masing.
sesampai dirumah, bapak sedang meonton tv, ibu yang sedang menyetrika, dan adik-adiku yang sedang belajar di atas teras.
Tok… tokk… tok! Bapak, ibuuu…!
Bapak mengerti bahwa yang mengetuk pintu itu adalah anaknya, anak yang sedang ditunggu dari sejak siang dengan penuh kehawariran dan kecemasana. maka Bapak langsung membukakan pintu. saya merasa kepalaku tiba-tiba mendadak pusing, badan terasa lemas, otot keram dan telapak kami terasa membengkak karena terlalu lama terendam air dalam sepatu. Bapak mengambilkan handuk, sedangkan adek disuruh bapak untuk memanaskan air untuk saya kakaknya.
Pak, tas… tas…pak, buku… tas… hah..hah…(suara naspas)
Buku dido di tas
Bapak melirik tas dan lanngsung mengeluarkan buku yang ada di dalamnya, buku yang sudah bertamabah berat karena terendam oleh air, bapak pun langsung menyuruh ibu untuk menyetrika buku-bukuku.
Saya bersandar di tembok sambil melepas kecapean dan melemaskan otot-otot yang masih terasa linu. saya memandang buku-buku yang mungkin tak layak lagi disebut sebagai buku. Aku mencemaskan buku-buku yang dua hari lagi akan di kumpulkan sebagai sarat penamabahan nilai ujin akhir sekolah nanti dan catatan pelajaran penting lainya. Bagaimana aku akan mendapat tambahan nilai dan bisa belajar kalau buku catatannya saja tidak ada. Ibu mendengar seperti itu langsung menangis, air matanya terus becucuran dari sudut kelopak matanya, ibu yang keseharianya galak kini bisa nenangis melihat anaknya datang dengan baju basah dan kedinginan.
Bapak terus memandang wajahku yang terlihat pucat, sambil mengusap rambutku dan berkata “Dido… harus kuat…biarlah…! semua ini adalah ujin”
“Iya pak… “ jawabku sambil memanggukan kepala.
Ibu yang terlihat sedang sibuk memanaskan makanan, ternyata dalam hatinya ia menagis, air matnya terus tak henti-henti bercucuran.
Tiba-tiba seruan azanpun dikumandangklan, aku segera mengambil anduk yang sebelumya sudah disediakan di dekat kamar mandi, dan seember air panas yang sudah disiapkan adiku. Dengan begegas aku gegera mandi. Setelah madi aku melihat bayak sekali hidangan di meja makan, satu ayam yang masih utuh, sambal dan lalaban yang sudah direbus siap menyambut makan malam. Alhamdulillah
Gami’, 08 oktober 2008. 13.51