“Mari kita menulis atau menulislah!”, mana ungkapan yang paling cocok dengan kita? Kata yang sangat simpel, tapi kalo kita perhatikan denagn cermat dua ungkpan diatas memiliki pengaruh yang snaagat besar, apa lagi bagi yang hatinya mudah tersentuh, tapi kenapa saya (khususnya), ketika mendengar kata-kata itu tak ada epek sedikitpun, berbeda sekali ketika mendengat cerita hantu atau pojong, bukan hanya bulu roma yang berdiri tapi juga seluruh permukaan kulit ikut merinding.
Ada lagi orang yang merinding karna mendengar ayat-ayat al-qur’an, saking takutnya iya gemetar kadang pula ada yang sampei menagis.
Saya sendiri pernah menagis, ketika tidak dikasih uang saku sama orang tua, dimaki sama tetangga dan dimarahi sama guru. tapi setelah itu saya mulai sadar, klo saja tidak dingatkan oleh sang guru karna pulang bukan pada waktunya atau dimarahi oleh tetangga karena mengambil mangga tanpa minta izin terlebih dahulu. mungkin sampei sekarang akan tetap saja seperti itu, tidak akan ada peruban bahkan cenderung menjuru pada ha-hal yang negatif.
Nah bagaina dengan kemalasan yang penulis alami saat ini, apakah bisa di obati? Apakah cukup haya diingatkan? Ataukah dibiarkan begitu saja? Cuma kita yang tau jawabanya.
Klo dibiarkan, kami takut sipat itu akan membumi, mendarah daging bahkan bisa menular ke orang lain. klo tidak segera dicariakan penagkalnya( hehe.. emang hantu) ini akan menjadi bagian dari hidupnya.
pagi yang sunyi, sang surya keluar dari balik selimut awan, sinar mataharinya yang khas begitu menyentuh lapisan permukaan kulit, ku lirikkan bola mataku ke arah jam dinding yang menempel di tembok samping, ternyata jam sudah menujukan pukul 07:00 pagi.
teng...teng..rug!
Suara-suara itu terdengar kembali di balik pintu tua yang sudah lama tidak di huni, letaknya pas berada didepan platku, aku merasa ada keanehan di plat itu, setiap aku mendenagrnya bulu romaku berdiri, tapi aku tak pernah menghiraukanya.
"mungkin itu hanya suara benda jatuh saja" gumamku dalam hati
Aku pun meneruskan aktifitasku, denagan segelas susu panas dan sebotol air putih yang senagja ku siapakan untuk menemani pagiku.
Pagi hari adalah waktu yang sangat cocok bagiku tuk sekedar membaca, menulis maupun mengulang hapalan. disamping suasananya yang tenang, tentram juga sang surya mulai menampakan wujud sinarnya menerangi jagat raya, yang kadang dengan ke elokan sinarnya mampu memberikan imajinasi-imajinasi baru.
Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 12:03 siang. aku baru ingat klo aku puya janji sama seseorang, ku langkah kan kaki tuk segera bersiap-siap.
Lagi-lagi terjadi keanehan saat aku keluar dari platku, pintu yang berhadapan deangan pintu platku, tamapaknya sedikit terbuka, aku benar-benar semakin merinding dibuatnya.
"buakannya plet ini kosong, kenapa pintunya terbuaka", "bagaimana bisa pintunya terbuka sendiri, pintu ini kan sudah lama ditutup dan tak seorangpun dapat membukanya, sedangakan pemilik rumahnya pun kini tak tau dimana keberadaannya, tampaknya plat ini sudah lama tidak dihuni" bisiku dalam hati dengan penuh keheran diselain rasa keganjilan.
Aku tak mau berpikir panjang, yang sampei menghabiskan waktu terlalu lama, kukira ini hanya sugesti dan perasaanku saja yang terlalu mendramatisir keadaan, karena mungkin tadi malem aku dan teman-teman nonton film pocong sampei larut.
Ku langkahkan kaki menuju lantai bawah, maka sampeilah di gerbang imarah, sesampainya di bawah ternayta gerbangnya di kunci dan aku lupa membawanya, maka dengan terpaksa aku harus mangambil kunci terlebih dahulu. saat ku menginjakn kaki pada deretan tangga paling akhir, dengan tak senagaja aku melihat seorang nenek tua berambut panjang, susunan rambutnya tidak teratur alias acak-acakan memasuki plet itu.
Kini yang merinding bukan hanya bulu ramaku, tapi seluruh bulu-bulu permukaan kulit tanggan dan kakiku ikut berdiri, aku memang termasuk orang yang penakut, sejak kecil aku selalu ikut bapak kemana iya pergi, bahkan ketika bapaku membersihakan rumah nenek yang sudah lama tidak dihuni, aku pun ikut bersamanya, walau hanya sekedar duduk menemaninya.
Waktu itu, aku kebelet ingin pipis, saat ku masuk kamar mandi, aku meliat sesosok wanita berpakaian serba putih, rambut yang tak terurus persis seperti gelandangan dipinggir jalan yang sedang duduk di sopa tua. setapak demi setapak ku langkahkan kaki tuk menhampirinya, saat ku mendekat, ia pun memalingkan wajahnya, aku terkejut dan lari terbirit-terbirit.
"bapaaak!... bapaaak!..." aku berteriak
ku lihat bapakku sudah tidak ada ditempat, aku semakin ketakutan, aku berlari ke halaman, sambil berteriak " bapaaak! bapaaak! dimana? aku takut pak, aku takuuuut, takut sekali.
ketika ku sampai di rumah ternyata tapi bapaku tidak, lalu ku betanya pada ibu.
"ibu bapak mana, bapak sudah pulang belum?"
"loh buakanya tadi sam dido pergi ke rumah nenek" ibuku balik bertanya.
iya bu tadi sama dido, tapi...?"
tapi apa? ibuku pertanya denagn sedikit heran. "hmm tapi apa?"
tidak bu, tidak apa-apa?
ya sudah klo gitu, cuci kaki cuci tangan, kemudian kita makan banreng-bareng, ibu selseseikan dulu jemurannya ya?
"iya bu"
saatku selesei mencuci, aku melihat bapaku sudah duduk di kursi meja makan.
kami pun makan bersama, bapaku meliriku kemudian bertanya " dido ada apa? ko makannya tidak besemangat", "makanannya tidak enak ya?" ibuku menambahkan
"engga bu, engga pa" dido cuma lagi ga enak badan.
"pak, dido boleh bertanya sesuatu?"
"boleh, tentang apa?"
"euu... tentang, eu... rumah itu pak"
"emang ada pa dengan rumah itu" bapaku balik bertanya
"eu... tadi dido kan mau masuk kamar mandi, dido liat ada seseorang di kamar sebelah, terus ya dido masuk, pas dido liat, ada seorang perempuan tua, wajahnya rusak, sereeem sekali, sampei dido lari terbirit"
"oh...pantesan tadi bapak liat dido lari sambil berteriak, bapak waktu itu lagi beli paku ke warung, pas bapak liat dido sudah lari jauh" jelas bapakku
"iya rumah itu sudah lama tidak dihuni, kurang lebih hampir lima tahun rumah itu kosaong, kemudian nenek mewariskannya kepada paman, tapi paman menolak dia lebih memilih sepetak tanah di lorong bukit sana, katanya mau tanamin singkong, dengan sedikit berat hati bapakpun mensetujuinya, nah sekarang bapak pingin rumah itu ada yang menempati"
"terus sosok permepuan tua itu siapa pak" aku bertanya kembali
bapaku menjawab "oh wanita itu ibu hamidah tetangga sebelah yang letak rumah tidak jauh dari situ, bapak ga semapat bailang klo bu hamidah yang sudah berumur tua itu mau membantu kita untuk membersikan rumah, bu hamidah yang sejak dari pagi membersihkan rumah itu, ya mungkin terlalu capek akhirnya ia beristirat kemudian tertidur.
sejak kejdian itu, aku mulai teroma,, klo melihat sososok perempuan tua dengan rambut acak-acakan, walaupu itu buakan keyataan, tapi sampai dengan detik wajah-wajah itu selalu mengahntui dan membyangiku.
saat ku mengambil kinci, telpon rumah yang yang terletak di ruangan tengah pun berdering.
"hallo, assalamualaikum" suara terdengar dari gagang terlepon
"iya, waalaikum salam" jawabku
"didonya ada ustad?"
"iya saya sendiri, saya dido" jawabku
tadi ada pesan dari koord pembinaan intelektual katanya "diskusi kali ini di undur besok sore jam 15.00, atas perubahan ini kami mohon maaf"
" sama-sam, oke kalau gitu terima kasih ya" ucapku
"asalamualaikum"
"walaikumsalam"
dengan diundurnya jadwal diskusi, aku pikir lebih baik menerukan aktipitasku untuk mengatamkan buku cerita yang tinggal beberapa lembar lagi, dengan perasaan yang masih di banyangi ke ganjilan tadi pagi. Terbesit di pikiranku tuk menayakan hal ini pada senior, tapi semuanya pada tertidur.
“Ting nong… ting nong… ting nong…” suara bel berbunyi
Lalu aku membuka pintu, kebetulan ternyata yang datang itu bang rubi senior yang sudah tinngal lama di rumah ini, ini kesempatanku yang sangat pas untuk menanyakan hal ini.
“Emm bang, boleh bertanya sesuatu?” ku bertanya dengan nada sedikit gugup.
“Boleh, ada apa emangnya?”
“Tentang plet depan”
“Dengan singakat ku ceritakan semuanya kejadian tadi pagi, sampai dengan sesosok permpuan tua yang berpenampilan aneh”
Setelah mendenagrakn penjelasan dari bang rubi aku baru tau klo rumah itu, memang baru saja di buka oleh tuan rumannya dan menyuruh ibu rohmah dan amu hamid untuk membersihkan, walaupun mereka berdua sudah sangat tua tapi semangat untuk bekerjanya masih bisa diandalkan malah anak muda sekarang kalah lebih telaten dibanding mereka.
Di sore itu, terlihat di balik kaca tebal , sang surya mulai menguning, semakin mengunig dan akhirnya tenggelam bagai ditealan bumi, petanda sang kegelapan malam akan datang, dan sang surya untuk kembali lagi bertugas, tinggal tiba saatnya sang rembulan menggantikan di malam hari. Tampaknya langit mulai menghitam, terliat dari kejauhan sang petugas menghampiri kami yang sedang asik nonton tv. Dengan nada yang sopan dan ramah ia menyapa kami, membuat kami teharu mendenagarnaya. Jarang sekali di jumpai petugas seramah itu. Kendaraan beroda itu pun berhenti, klo di Jakarta kendaraan beroda tiga itu namanya “bajay”.
Walaupun kendaraan ini sedikit memiliki kesamaan dengan alat tranportasi yang suaranya tidak karu-karun alias bajay itu, disisi lain jelas tidak sama, kendaraan ini ketika berjalan sangat kencang melabihi bisi kota, jarak yang di tempung tidak terbatas, dalam hitungn jam kita sudah sampei di tempat yang klau ditempuh denagn bis kota, jauh memamkan watu yang sangat lama. Bukan mustahil jarak dari jarakta menuju negri firaun di tempunh dalam hitungan jam, ya,,,! kendaraan besayap menamakan dirinya “pesawat terbang”.
Kurang lebih hampir 11 jam waktu yang di tempuh dari Jakarta sampeai di tempai tujuan yaitu mesir.
Sampailah kami di tempat yang kami imipikan itu, kemudian terdenagar suara petugas di balik pengeras suara agar kami segara bersiap-siap.
Kami pun mengemasi barag-barang, sambil memeriksa takut ada yang ketinggalan, ketika kami sampei di pintu keluar, para senior sudah menunggu disana. Aku sangat bersukur mereak sangat perhatian dengan kami, dan alhamdulillah kami pun sampei di tempat yang sudah disiapkan.
Saat kami sampai di rumah, ternyata sebagian senior yang tidak ikut menjemput kami ke bandara mereka sibuk mempersiakan makanan untuk berbuka, sambil menunggu makanann siap dan azan magrb tiba, kami pun mandi terlebih dahulu secara beragantian.
Azan magrib pun dikumandangkan, kami pun segera manyantap makanan yang sudah di hidangkan,
Mas mujib salah satu senior menyarankan kepada kami untuk sholat taraweh secara berjamaah di masjid.
“Nnt habis ini kita langsung shalat taraewh di masjid nurul muhamadi, bagi yang mau Dan bagi yang merasa kecapean bisa langung beristirahat di kamar masing-masing” sahut mas mujib
Shalaty teraweh yang kurang lebi dua jam itu pun dapat kami lalui, walau kadang kaki kami tersa kesemutan. Kemudian denag tubauh yang capek dan lalah saya langsung merebahkan tubuh di tempat kasur.
Kenudian ku berkata dalam hatiku “ini lah awal dari sebuah pejuangan dan mudah mudahan semuanya baik-baik saja”
Sebuah pengalaman yang menarik bagi penulis dan sampei hari ini bayangan itu selalu dijadikan sebagei pijakan buat kami, motivasi dan pendorong buat saya peribadi. Mungkin kisah kecil ini tidak asing lagi di benak dan telinga kita. Bahkan ada sebagian di atara kita yang pernah mengalami apa yang penulis alami. Ada yang mengagap itu hal yang biasa atou lumrah tapi ada yang mengatakan itu justru menjadi antisipasi sekligus peringatan bagi kita khususnya sebagei pelajar mahasiswa. Plus azhariyiin.
Kami tidak akan menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, tapi ini lebih di titik beratkan pada diri kami, kami lah yang menjalani dan kami pula yang harus menanggung resikonya.situasi dan kondisi bukan lah segala penyebab mundur dan majunya seseorang atou rosib dan tidaknya sebuah kenajahan, itu semua bukan sebuah alasan tapi yang menentukan adalah usah kita, sejauh maman kita berusaha dan bersungguh sungguh serta tak boleh menafikan satu hal yaitu berdoa, maka insya allah kita akan memetik hasilnya.
Kata orang Kesuskesan itu selalu indentik dengan ujian dan kerja keras, jadi klo kita mau menjadi orang yang benar benar suskses, baik itu sukses di dunia mau pun di akhirat jelas kita harus mengikuti arurannya. Sampei orang kaya pun pasti memiliki langkah- langkah atou tahapan-tahapan diamana untuk menjadikanaya ia kaya begitupun dengan kesuksean.
Nah pada kisah kali ini penulis ingin menguarakan sekelumit kisah yang menurut saya peribadi kisah yang sangat berperan penting dalam sebuah kehidupan, mudah-mudah saja ini biasa bermanpaat bagi kita semua.
Ya! ketika kami sampei di negri yang dijuluki sebagai negri seribu menara ini. Sampailah saya dan teman saya dirumah yang telah sediakan oleh broker kami. Alahdulillah waktu itu kami baik-baik saja dan belum ada masalah apa-apa. Kurang lebih satu bulan hasil mukoyat pun turun, setelah kami mengecek ternyata mukoyat kami bukan di kairo melainkan di tonto, kami pun kompiemasi sama para senior untuk mentahwilkan kami dari tonto ke kairo apa pun resikonya dan mereka mau mengusahkanya.
Berangkat lah kami ke derah sambil membawa berkas-berkasnya, alhamdulillah ternyata semuanya berjalan denagn lancer. Tinggal menuggu hasih mukoyatnya. Kini kami sudah sudah bisa memastikan bahawa kami bisa kuliyah di cairo. Kurang lebih satu bulan kami menunggu hasih mukoyatnya tapi tak kunjung turun juga, kami hawatir sambil harap-harap cemas. Munginkah kami keterima, atau kah kami terpaksa kuliyah di daeah, dan yang paling kami hawatirkan lagi kami tidak masuk keduanya. ditambah lgi kami belum sempat membeli buku diktat kuliyah, saat itu kami bingung mana yang hasus kami beli, buku muqraar kuliyah kairo ataukan buku muqorrar tant
Kini ujian tinggal kurang dari satu bulan lagi tapi mukoyat belum turun juga, kami semakin panik waktu itu, dengan peasaan yang sedikit terpksa kamu memutuskan untuk membeli buku diktat kuliath kairo, apa pun resikonya, tapi ketika kami membeli ternyata sebagian dari muqararranya sudah pada habis, Cuma dua yang kami dapat.
Beberapa hari berikutanya mukoyatnya pun turun, kami mukoyat di kairo, akhirnaya kami mulai untuk mengejer keteringgalan kami, tapi tetap saja tidak biasa, Yang menurut hitungan jari ujian akan di mulai sebentar lagi.
Mungkin ini lah letak kesalahan kami kenapa kami tidak segera mengambil keputusan tanpa harus menunggu terlalu lama sampei akhirnya hapir menghabiskan waktu terlalu lama, hanya dua kitab yang dapat kami seleseikan itu pun dengan bantuan bimbing para senior, sedangakan buku muqarrar selebihnya kami pinjam dari mereka tak sempat kami baca. Ujian termin petama azhar kini suadah dimulai bagi yang usuliddin dan syariah hari brikiutnya.
Saat kami menjalani ujian di azhar sudah sangat krepotan sekali ketika menisi lembar jawaban, klo hanya berbahasa indonesia setidak kita bisa mengarang sedikit-sedikit tapi ini semuanya harus menggunakan tulisan arab. Dua…tiga… mata kuliyah sudah kami lalui tinggal mata kuliyah yang keempat. Disini baru kami mengalami kendala dengan tuan tumah. Mereka menginginkan agar kami segera pindah dari rumah denagan alasan terlalu banyak yang tinggal dirumah itu. Perjanjian tuan rumah dan broker kami, ruamah itu hanya boleh di tempati tak lebih dari 4 orang. sedangkan kami semuanya ada 6 orang. Sebenarnya kami tidak tahu klo ada peratursan seperti itu, yang kami tau rumah itu disewakan untuk kami dengan harga yang telah disepakati.
Akhirnya dengan terpaksa kami harus pindah, dia memberi kesempatan tiga hari, kalau saja kami belum pindah mereka akan berlaku lebih dari hanya sekedar kata-kata, dengan waktu yang sangat sedikit sekali saya dan teman-teman serta di bantu juga sama para senior segera mencari tempat tinggal baru. Tapi selama tiga hari itu pula kami belum mendapatkan rumah sama sekali. Sampei akhirnya kami menumpang di ruamh teman-teman untuk semantara waktu.
Ujian yang tinggal satu kali lagi membuat kondisi kami berubah total, belajarpun kadang kami lakukan di sembarnag tempat yang penting buat kami bisa belajar.
Hampir pas satu bulan kami pun dapat rumah sewaan baru. Hari itu pula kami langsung bersiap-siap untuk pindah, dan alhamdulillah akhirnya kami bisa belahjar dengan tenang.
Buat kami ini memang pengalaman yang pahi, tapi ini dapat mendidik kita untuk lebih giat, rajin, pantang mundur dan melatih kesabaran. Alhamdulillahirobilallamin.
yah…! indonesiaku, indonesiaku, kenapa jadi seperti ini. Saya tidak tau, mau ngomong apa? tapi yang jelas melihat perkembangan indonesia yang sekarang ini semakin memperihatinkan membuat bulu roma saya merinding, sempat terkejut juga sih. Yah… harus bagaimana lagi emang sudah seperti itu, dan memang tidak bisa di pungkiri lagi. Indonesia sekarang ini semakin memburuk baik itu dari segi perekonomian maupun dari segi ketenraman dalam masarakat, sampei denagan hal hal yang dulunya sangat asing di benak kita kini sudah menjadi hal yang rumlah bahkan sudah dianggap bisa, bagaimana tidak dulunya pakaian sebagi pigur yang mencerminkan sebuah keperibadian seseorang dan sekligus sebagei penutup aurat. serta masyarakat beranggapan ini akan menjadi cira bagi kepriadinya. Tapi sekarang sudah berubah 180* kini sebagian mereka mulai bepakain minim dan seksi itu kita bisa menjumpainya dimana-dimana bukan hanya di film-film saja tapi juga di setiap tempat, terutam mall dan pasar malam itu secara Cuma-Cuma.
Kondisi indonesia yang sekarnag ini, ini akan menjadikan indonesia lebih terpuruk lagi terutama dalam bidang ahlak tentunya. Epek yang di timbulkannya pun akan berdampak buruk pula. Saya tidak tau 10 tahun atou 20 tahun yang akan datang indonesia akan seperti apa. Saya kira indonesia terlalu mudah mengkonsumsi budaya barat yang serba gemerlapan dan terlalu teransparan. padahal kalo diterpakan di indonesia itu tidak akan setabil dalam artian tidak akan pas denagn kondisi indonesia yang krisis sekarang ini, dari segi perekonomian saja indonesia sudah termasuk negara yang perlu disantuni, bagaimana bisa budaya barat yang boleh dikatakan serba ke mewah-mewahan akan menjadi pigur keseharian jelas ini tidak mungkin, mungkin saja bagi mereka (orang barat) itu tak jadi masalah karna pasilitas semanya sudah mendukung, sedangkan kita apa yang kita apunya kebutuhan sehari hari saja masih kurang apa lagi mengikuti gaya mereka, nah disini maka akan terjsadilah suatu manipilasi untuk menyesuaikan kebutuhan sehari hari.
Pernah suatu hari saya melihat beberapa photo dari salah satu situs indo, merekamenampilkan photo-photo hasih jepretannya dan rekaman videonya. Ini sangat menghawatirkan sekali. Disitu ada beberapa artis kampung ( karna mereka biasa manggung di kampung-kampung seperti persepsi pernikahan dll) mereka seolah-seolah bukan penyanyi perayaan mungkin lebih tepatnya sebagei penyanyi bar, ini jelas sangat melanggar norma-norma agama, dan ditinjou dari uu kita pun itu sebenarnya tidak boleh ditampilkan di depan masyarakat umum apa lagi disitu banyak anak-anak kecil. Tampilan serta aksi-aksi seperti itu tak pantas di pertontonkan. Mereka ada yang membuka bajunya (haya kelihatan bh nya saja), ada yang membuka bh nya hahkan ada yang sampei bertingkah laku lebih dari itu dan melakukan itu di tempat tebuka (sejenis atou alun-alun) Juga terlihat dari video tsb. Ada adegan yang sangat tidak bermoral, Sempat saya “berpikir ini nyanayi atoukah pentas pelacuran”
Ternyata indonesia bukan hanya krisis perekonomian tapi juga krisis ahlak. Ini sangat memperhatinkan sekali, dua pondasi ini sudah mulai terkorek denagn budaya asing yang bergelamor. Lantas apa yang bisa kita banggakan dengan bangsa kita ini. Dulunya indonesia yang sangat memegang terguh kakteristik dan kehormatan. Kini mulai pecah dengan tampilan-tampilan yang mengoda perinsip seseorang, jelas ini jangan sampei dibiarkan.
Aduh teman-temanku sudah banyak yang menulis, dan karya-karyanya sudah cukup lumayan banyak, sedagkan aku baru beberapa gelintiran, kadang aku malu juga sama teman-teman. Tapi aku sadar mereka lebih kompeten dibanding diri saya peribadi, yah… mulai saat ini dan akan datang aku akan berusaha semakin rajin, rajin, dan rajin dalam menulis dan berkarya, tapi dari mana aku harus memulai menulis? di depan komputer saja jarang, baca buku pun alas-alasan. Aku emang orangnya pemalas. Entah apa yang membuat aku jadi begini. Tapi aku sadar pada diriku dan aku ga akan menyalahkan siapa-siapa. Kemalasanku karna akibat kebiasaanku, sungguh aneh memang seorang pemalas seperti aku ini ingin jadi super hero yang pada suatu saat bisa diundang kemana-kemana, senangnya bisa seperti mereka yang sukses dan meraih cita-citnya denagn penuh kebanggaan.
Aku teringat pesan kedua orang tuaku saat aku akan berangakat ke mesir mereka berpesan “ jadilah kebanggan dirimu dan masa depanmu” saat ini, ketika aku menuliskan artikel ini aku sempat ingin menangis, menagis dan trerus menagis. Air mataku yang terus mengenang di sudut mata, setetes demi setetes terus bercucuran, suaraku semakin serak, aku ingin sekali mencurahkan rasa penyesalanku saat ini ke dalam bentuk tangisan. Tapi aku tidak yakin dengan tangisanku ini aku mampu menebus ketertinggalanku, kelalayanku, dan kebodohanku, tidak! Aku tak boleh menagis, apa lagi mengeluh, aku ini sudah besar, dan tangisan bukanlah jalan keluar yang mampu menyeleseikan masalah bukan pula suatu alat yang dapat mengembalikan kemasa lalu, tangisan hanya aplikasi sebuah rasa penyesalan saja.
Yeeesss!... mari teman-teman kita berjuang, saling memberi semangat dan motivasi, Mungkin dengan menulis ini akan menjadi peluang di masa depan dan juga ladang amal buat kita setelah meninggal nanti. Amiin